Biografi 4 imam mazhab


Imam syafi’I

1. Nama & Nasab : Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah.Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

 

2. Waktu dan Tempat Kelahirannya :  Beliau dilahirkan pada tahun 150. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya. Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Gaza di wilayah Asqalan. Imam Syafi’i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah.

 

3. Pertumbuhan & Pengembaraan nya mencari ilmu : Imam Syafi’i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafal nya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, ‘Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.’” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru. beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat usia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran. Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi’i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah. Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Tetapi, hanya satu tahun di Mekkah. Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi’i kemudian memutuskan pergi ke Mesir.


4. Keteguhannya Membela Sunnah :  Beliau berkata, Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmen nya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Imam Ahmad berkata“Bagi Syafi’i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan perilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.

 

5. Wafat : Karena kesibukan nya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam jum’at setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab, permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun.

 

6. Karangan-Karangannya : jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yagut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam Al-Fahrasat. Yang paling terkenal diantara kitab-kitabnya adalah al-Umm.

Yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah dan ar-Risalah al-Jadidah

(yang telah direvisinya) mengenai Alqur’an dan As-Sunnah serta

Kedudukannya dalam syari’at.

 

Imam malik

1. Nasab : Nasab beliau berujung pada Kabilah Yamaniyah, yaitu Dzu Asbah, dan nama ibunya ‘Aliyah binti Syuraik al Uzdiyah, bapak dan ibunya orang Arab Yaman, ia tumbuh di rumah yang menggeluti atsar, dan lingkungan merupakan sumber atsar dan hadits. Kakeknya Malik bin Abi ‘Amir termasuk pembesar tabi’in, ia meriwayatkan (hadits) dari Umar bin Khattab, ‘Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Aisyah Ummul Mukminin.

 

2. Waktu & Tempat lahir : Pendapat kebanyakan para ulama- pada tahun 93H. di kota Madinah Munawarah.

 

3. Wafat : Banyak para rawi yang meriwayatkan bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 179 H. Al Qadhi ‘Iyadh berkata: “Beliau hidup selama kurang lebih 90 tahun, dahulu di (Madinah) ada seorang Imam yang meriwayatkan, berfatwa, pendapatnya didengar selama sekitar 70 tahun, wibawanya selalu meningkat setiap saat, keutamaan dan kepeminpinannya terus meningkat sampai meninggal dunia, dia adalah rujukan satu-satunya sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia memiliki kepemimpinan dunia, agama tak seorangpun yang membantahnya”.

 

 

Imam Hanbali

1. Nama : Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau adalah seorang ulama hadits terkemuka, baik pada masanya ataupun sesudahnya.

 

2. Nasab & Kunyah : nasab Imam Ahmad sama dengan Imam Asy Syafi’i, yakni bersambung dengan kakek yang menurunkan Nabi Muhammad shallaahu’alaihi wa sallam. Jika Imam Asy Syafi’i bersambung dengan kakek Nabi shallaahu’alaihi wa sallam yang ketiga, ‘Abdul Manaf. Sedangkan silsilah Imam Ahmad bersambung dengan kakek yang ke delapan belas, yakni Nizar. Jelasnya, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin ‘Abdullah bin Hajyan bin ‘Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin Akabah bin Sha’ab bin ‘Ali bin Bakar bin Muhammad bin Wa`il bin Qashit bin Afshiy bin Damiy bin Jadhah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’an bin Adnan. Menurut catatan tarikh, kendati ayah beliau bernama Muhammad, namun beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbat kepada kakeknya). Setelah mempunyai beberapa putra yang diantaranya bernama ‘Abdullaah, maka beliau pun lebih sering dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Akan tetapi berkenaan dengan madzhabnya, maka kaum muslimin saat itu lebih menyebutnya sebagai Madzhab Hanbali, dan sama sekali tidak menisbatkan dengan kunyah tersebut.

 

3. Waktu & Tempat lahir : Menurut riwayat yang masyhur, beliau dilahirkan di Kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), ketika masa pemerintahan Islam dipegang oleh Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani ‘Abbasiyyah ke III

 

4. Wafat : Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang, tidak lama kemudian beliau meninggal dunia mengingat rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah serta kian memburuk. Beliau wafat tepat pada bulan kelahirannya, 12 Rabi’ul Awwal 241 H (885 M). Pada hari kewafatannya itu tidak kurang 130.000 (seratus tiga puluh ribu) kaum muslimin yang hendak menshalatkan dan 10.000 (sepuluh ribu) orang Yahudi-Nashrani yang masuk Islam penuh sesak memasuki Baghdad.

 

Imam hanafi

1. Nama : Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zutha Al-Kufi, dikenal dengan kunyah Abu Hanifah. Di antara keempat mazhab, Hanafiyyah lah yang dianggap paling tua.

 

2. Waktu & Tempat tanggal lahir : Lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 H bertepatan dengan tahun 699 M

3. Wafat : wafat di baghdad pada 150 h (767m)